Ditemukan Korelasi antara Suhu Rata-Rata dan Jumlah Kasus Covid-19 di Jakarta

Apakah jumlah kasus Covid-19 ada hubungannya dengan cuaca?

Pertanyaan ini sangat menarik dan sempat menjadi topik kontroversi yang hangat di media massa beberapa waktu lalu setelah seorang pejabat menyampaikan pernyataannya lalu banyak pakar menanggapinya. Sayangnya, pandangan media massa di tanah air nampaknya kurang jeli sehingga gagal mengutip hasil analisis menarik yang ditulis oleh Ramadhan Tosepu, Joko Gunawan, Devi Savitri Effendy, La Ode Ali Imran Ahmad, Hariati Lestari, Hartati Bahar, dan Pitrah Asfian. Sekitar dua bulan lalu, tepatnya pada tanggal 4 April 2020, analisis para peneliti dari Universitas Halu Oleo dan Poltekkes Pangkal Pinang itu berhasil terbit di sebuah jurnal internasional bereputasi yaitu Science of the Total Environment. Jurnal ini terindeks Scopus dengan peringkat Q1 di bidang teknik lingkungan. Artikel mereka ini bersifat open access sehingga dapat kita unduh tanpa biaya (lihat URL-nya pada Referensi).

Metode Studi

Para peneliti Indonesia tersebut mencoba mencari hubungan antara jumlah kasus (positif) Covid-19 dan lima komponen iklim yaitu suhu minimum, suhu maksimum, suhu rata-rata, kelembapan, dan curah hujan. Mereka memilih DKI Jakarta sebagai fokus studi mereka. Mereka pun membatasi periode data yang mereka gunakan untuk analisis yaitu data pada Januari-29 Maret 2020. Data-data jumlah kasus Covid-19 DKI Jakarta mereka dapatkan dari laporan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Data-data suhu, kelembapan, dan curah hujan didapat dari Meteorological Department of the Republic of Indonesia (tidak ditemukan nama lembaga yang terjemahnya tepat selaras dengan nama yang digunakan dalam bahasa Inggris ini, tapi yang paling mungkin adalah BMKG). Ukuran yang dipilih untuk mengukur kekuatan hubungan antara dua kelompok variabel itu adalah korelasi. Metode untuk menguji sekaligus mengukur korelasi itu adalah Spearman-rank correlation test. Para peneliti itu memilih metode ini karena data yang mereka analisis tidak mengikuti distribusi Normal.

Studi-Studi Sebelumnya

Pilihan mereka untuk menguji hubungan antara pergerakan virus Corona dengan iklim bukanlah tanpa alasan. Pasalnya, studi-studi yang sudah dipublikasikan para ahli sebelum terjadinya Covid-19 sudah menunjukkan adanya hubungan antara kondisi cuaca dan pergerakan virus. Para peneliti ini mengutip hasil studi Eipstein (2001) yang menunjukkan bahwa kondisi-kondisi cuaca ekstrem bisa jadi turut berkontribusi pada penyebaran virus West Neil di kawasan Amerika Serikat dan Eropa. Studi dari Yuan dkk (2006) menunjukkan bahwa suhu yang optimal, kelembapan, dan laju angin merupakan variabel-variabel yang dapat menentukan tingkat bertahan dan transmisi dari virus SARS. Bahkan, sebuah studi dari Bull (1980) menunjukkan adanya korelasi yang sangat kuat antara perubahan suhu dengan perubahan pada angka kematian akibat pneumonia. Studi yang lebih baru dari Dalziel (2018) juga menunjukkan transmisi virus dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya kondisi iklim yaitu suhu dan kelembapan, serta kepadatan penduduk.

Hasil Studi

Lalu bagaimana hasil analisis para peneliti nusantara ini?

Mereka menemukan bahwa dari kelima variabel iklim yang diuji itu (suhu minimum, suhu maksimum, suhu rata-rata, kelembapan, dan curah hujan), hanya suhu rata-rata yang memiliki korelasi signifikan dengan jumlah kasus Covid-19. Empat variabel lainnya tidak berkorelasi secara signifikan dengan jumlah kasus Covid-19.

Para peneliti ini lantas membahas temuan mereka ini dengan temuan-temuan serupa pada beberapa penelitian sebelumnya yang relevan dengan lokasi studi yang berbeda-beda. Mereka juga membahas kepadatan penduduk Jakarta dan kaitannya dengan penyebaran Covid-19. Selain itu, mereka pun mengakui berbagai keterbatasan studi ini.

Bagaimana menurut Anda?

Referensi

Tosepu, R., Gunawan, J., Effendy, D. S., Ahmad, L. O. A. I., Lestari, H., Bahar, H., & Asfian, P. (2020). Correlation between weather and Covid-19 pandemic in Jakarta, Indonesia. Science of the Total Environment, 725. https://doi.org/10.1016/j.scitotenv.2020.138436