Beberapa Fakta Perubahan Iklim di Asia Menurut Laporan IPCC 2022

Laporan IPCC 2022

IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change), yang merupakan sebuah lembaga internasional yang meneliti berbagai aspek perubahan iklim, menerbitkan laporan penilaian mengenai kondisi mutakhir perubahan iklim dunia. Laporan ini berjudul Climate Change 2022: Impacts, Adaptation and Vulnerability. Laporan ini diterbitkan pada bulan Februari 2022.
 
 
Dalam laporan tersebut ditampilkan data-data mengenai dampak (impacts) dari perubahan iklim yang terjadi di berbagai belahan dunia. Di antaranya di Asia.
Berikut ini diulas beberapa contohnya.

Perubahan pada Lahan Gambut

Terdapat hubungan yang erat antara perubahan iklim dan perubahan pada lahan gambut. Secara global, menurut laporan IPCC ini, ekosistem gambut menempati hanya sekitar 3% luas lahan di seluruh dunia, tapi menyimpan sekitar 25%  karbon organik tanah dunia. Ini berarti sekitar 600 miliar ton karbon tersimpan dalam lahan gambut. Dalam laporan ini disebutkan, di kawasan Asia Tenggara lahan gambut yang luasnya sekitar 20 s.d. 25 juta hektar telah diubah menjadi lahan pertanian. Akibatnya, terjadi kehilangan karbon dengan laju sekitar 55 juta ton karbon per tahun. Selain itu, perubahan iklim yang menyebabkan kekeringan dan kebakaran hutan turut menyumbang emisi karbon dari lahan gambut. Sebagai contohnya di Indonesia saja, menurut laporan ini, musim kering akibat El Nino di tahun 1997 menyumbang emisi karbon dengan nilai perkiraan minimal 810 teragram (juta ton) karbon per tahun.  Musim kebakaran lahan pada tahun 2015 diperkirakan menyumbang emisi karbon sebesar 380 teragram per tahun.

Kelangkaan Air Bersih

 

Dalam laporan ini (hlm. 623) ditampilkan gambar distribusi kelangkaan air yang parah, yaitu kondisi yang di dalamnya kebutuhan air melebihi ketersediaan air. Gambar ini direproduksi dari karya ilmiah karya Mekonnen dan Hoekstra (2016). Daerah dengan jumlah bulan yang di dalamnya terjadi kelangkaan air parah dalam satu tahun ditampilkan dalam berbagai warna. Warna hijau menunjukkan nilai 0, yang berarti tidak terjadi kelangkaan air yang parah sepanjang tahun atau terjadi kelangkaan yang parah tapi berlangsung tidak sampai satu bulan per tahun Warna cokelat sangat tua menunjukkan angka 12, yang berarti kelangkaan air berlangsung sepanjang tahun. Di antara warna hijau dan merah sangat tua ada warna kuning (durasi 1 bulan), jingga ( durasi 2-3 bulan), merah (durasi 4-5 bulan), merah tua (durasi 6-7 bulan), cokelat muda (durasi 8-9 bulan), dan cokelat tua (durasi 10-11 bulan).

Di benua Asia kawasan yang diwarnai cokelat sangat tua adalah kawasan gurun di Arab Saudi dan kawasan sekitar India bagian barat,  Pakistan  bagian selatan, dan Afghanistan bagian selatan. Kawasan Indonesia hampir seluruhnya berwarna hijau. Kawasan sekitar Jawa Timur ada yang berwarna kuring dan merah.

Referensi

IPCC, 2022: Climate Change 2022: Impacts, Adaptation, and Vulnerability. Contribution of Working Group II to the Sixth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change [H.-O. Pörtner, D.C. Roberts, M. Tignor, E.S. Poloczanska, K. Mintenbeck, A. Alegría, M. Craig, S. Langsdorf, S. Löschke, V. Möller, A. Okem, B. Rama (eds.)]. Cambridge University Press. In Press.

Mekonnen, M. M. and Hoekstra, A. Y. 2016: ‘Sustainability: Four billion people facing severe water scarcity’, Science Advances, 2(2), pp. 1–7. doi: 10.1126/sciadv.1500323.