Kuliah Prof. Siti Rozaimah: Pengolahan Limbah pada Industri Pertanian

Industri pertanian merupakan sektor yang berperan sangat penting bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Data BPS (Badan Pusat Statistik) menunjukkan bahwa pada tahun 2019 produksi kelapa sawit sebesar 45,86 juta ton, karet sebesar 3,45 juta ton, kelapa sebesar 2,83 juta ton, tebu sebesar 2,26 juta ton, kakao 0,78 juta ton, dan kopi sebesar 0,76 juta ton. Produksi yang besar ini tentu saja menghasilkan limbah pertanian yang besar pula.

Berdasarkan studi Ermawati (2020)  dan Lubis dan Lubis (2018) , dari perkebunan kelapa sawit dihasilkan sekitar 5 hingga 8 juta Tandan Buah Segar (TBS) per tahun, dengan massa sekitar 23 kg/tandan, dan 20%- 23% di antaranya merupakan limbah berupa tandan kosong kelapa sawit. Maka dapat dipastikan bahwa dalam satu tahun terdapat jutaan ton limbah tandan kosong kelapa sawit.  Tentu limbah pertanian seluruhnya jauh lebih banyak lagi.

Karena itu, pengelolaan limbah industri pertanian ini sangat perlu diperhatikan supaya sektor yang strategis ini terus berkembang secara berkelanjutan tanpa menimbulkan masalah pencemaran lingkungan.

Untuk membahas pengelolaan limbah pertanian ini, Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Jember telah menyelenggarakan kuliah tamu dengan menghadirkan Prof. Dr. Ir. Siti Rozaimah Sheikh Abdullah, seorang guru besar di Department of Chemical and Process Engineering, Universiti Kebangsaan Malaysia.  Prof. Siti menyampaikan kuliah online bertajuk Potential of Waste Recovery and Reclamation in Agricultural Industry. 

Kategori Limbah Industri Pertanian

Di bagian awal presentasi Prof. Siti menjelaskan kategori industri pertanian, yaitu industri primer dan industri sekunder.  Industri primer merupakan industri pertanian yang mengolah bahan mentah. Industri sekunder mengolah bahan mentah menjadi produk-produk jadi. Industri primer misalnya cocok tanam, tambak, dan ternak. Industri sekunder misalnya pengolahan kelapa sawit menjadi minyak sawit, pengolahan tebu menjadi gula, pengolahan sagu menjadi tepung, menghasilkan bubuk kopi dari buah kopi, dan sebagainya.

Prof. Siti kemudian menjalankan kategori limbah pertanian, yaitu limbah padat (solids) dan limbah cair (effluent). Contoh limbah padat industri pertanian di antaranya sekam padi, kotoran hewan, pestisida, dan sebagainya. Contoh limbah cair di antaranya larutan amoniak, karbon organik (BOD, COD), dan sebagainya.

Limbah yang mencemari lingkungan dapat membahayakan makhluk hidup. Sebagai contoh, limbah yang kaya nutrien yang berasal dari pupuk akan masuk ke perairan dan menyebabkan peningkatan populasi ganggang. Ganggang yang mati di dalam air lalu membusuk. Proses pembusukan ganggang ini menyerap oksigen yang terlarut di dalam air. Apabila konsentrasi oksigen terlarut terus berkurang, banyak ikan yang akan mati. Peningkatan populasi ganggang akibat limbah kaya nutrien ini disebut eutrophication (eutrofikasi).

 

penjelaskan fenomena eutrofikasi (slide Prof. Siti)

Strategi Penanganan Limbah

Prinsip dalam penanganan limbah industri pertanian yang disampaikan Prof. Siti adalah : pencegahan itu lebih baik daripada pengobatan.  Karena itu, fokus yang mesti menjadi prioritas pertama adalah sebisa mungkin menghilangkan penyebab limbah (eliminate). Prioritas berikutnya adalah pengurangan limbah yang sudah pasti dihasilkan (reduce). Berikutnya adalah penggunaan kembali material limbah (reuse). Berikutnya  adalah daur ulang material limbah (recycle).  Yang terakhir adalah pemberian perlakuan khusus (treat) dan pembuangan (dispose).  Salah satu alasan bahwa pencegahan limbah perlu prioritas lebih adalah karena lebih hemat biaya daripada pembuangan.

Hirarki pencegahan polusi (slide Prof. Siti)
Potensi biaya kumulatif berbagai strategi penanganan limbah (slide Prof. Siti)

Beragam Teknologi dan Metode Pengolahan Limbah Cair

Pengolahan limbah cair industri pertanian dapat dilakukan dengan berbagai metode dan beragam pilihan teknologi.  Prof. Siti menjelaskan bahwa berbagai teknologi itu dapat dikelompokkan ke dalam tiga kelompok berdasarkan tahap pengolahan limbah, yaitu teknologi untuk fase primer, teknologi untuk fase sekunder, dan teknologi untuk fase tersier.

Selain pengelompokan berdasarkan tahap, pengelompokan teknologi pengolahan limbah cair juga dilakukan berdasarkan tipenya, yaitu menjadi teknologi pengolahan secara fisika, teknologi pengolahan secara kimia, dan teknologi pengolahan secara biologi.

Contoh metode dan teknologi pengolahan secara fisika pada tahap primer adalah pengadukan (mixing), pengendapan (sedimentation), dan pengapungan (floatation), pada tahapan sekunder misalnya aerasi, dan  pada tahapan tersier misalnya penyaringan (termasuk reverse osmosis) dan adsorpsi.

Contoh metode dan teknologi pengolahan secara kimia pada tahap primer adalah koagulasi dan oksidasi, sedangkan pada tahap tersier adalah Photolysis dan Ozonolysis.

Contoh metode dan teknologi pengolahan secara biologi pada tahap sekunder adalah penggunaan mikroorganisme pada kondisi aerobic, anaerobic, anoxic, dan fakultatif, sedangkan pada tahap tersier misalnya fitoremediasi.

Teknologi pengolahan limbah secara fisika memiliki kelebihan biaya perawatan peralatan yang relatif murah. Teknologi pengolahan secara kimia dapat menghasilkan sludge dalam jumlah besar. Pengolahan secara biologi lebih ramah lingkungan.

 

Beragam teknologi pengolahan limbah cair (slide Prof. Siti)

Rekaman sebagian presentasi Prof. Siti dapat disaksikan di kanal resmi Prodi Teknik Lingkungan di Youtube 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *