Hubungan Erat antara Infeksi Covid-19 dan Pencemaran Udara

Pandemi Covid-19 belum nampak akan berakhir dalam waktu dekat. Data Kementrian Kesehatan Republik Indonesia per 29 Desember 2020 menunjukkan,  di seluruh dunia sudah lebih dari 80,1 juta orang di 221 negara yang sudah terinfeksi, dan sudah lebih dari 1,7 juta orang di antaranya meninggal dunia akibat penyakit ini. Adapun di Indonesia, sebanyak 727 .122 orang terinfeksi, dan 21.703 orang di antaranya meninggal dunia[1].

Penyebaran penyakit yang memakan korban jutaan orang di ratusan negara ini terjadi dalam waktu satu tahun saja. Jelas bahwa penyebaran virus ini sangat cepat.  Para ilmuwan di dunia terus berupaya memahami karakteristik penyakit Covid-19 ini supaya dapat menemukan metode dan material yang tepat untuk menganggulanginya.

Sampai saat ini, yang sudah terbukti secara ilmiah menurut WHO (World Health Organization) adalah bahwa virus Corona penyebab Covid-19 (SARS-CoV-2) dapat berpindah melalui respiratory droplets, yaitu percikan air liur orang yang terinfeksi Covid-19 yang berukuran antara 5 hingga 10 mikrometer yang terlempar ketika batuk atau bersin dalam jarak dekat (dalam jarak 1 meter).  Selain melalui respiratory droplets, virus ini menurut WHO juga dapat berpindah melalui permukaan benda-benda yang telah digunakan oleh penderita Covid-19[2].

Di samping itu, ternyata banyak studi yang dilakukan para tim peneliti di berbagai negara secara independen menunjukkan bahwa ada hubungan yang sangat signifikan antara infeksi Covid-19 dengan polusi udara. 

Berikut ini sekilas ulasan mengenai hasil-hasil yang didapatkan beberapa tim peneliti dalam riset mereka mengenai hubungan ini.

Hasil Penelitian di China

Zhu et. al. (2020)

  • Penulis: Yongjian Zhu, Jingui Xie, Fengming Huang , Liqing Cao
  • Judul : Association between short-term exposure to air pollution and COVID-19 infection: Evidence from China
  • DOI: https://doi.org/10.1016/j.scitotenv.2020.138704
  • Jurnal : Science of the Total Environment
  • Tanggal terbit: 15 April 2020
  • Metode:

Konsentrasi enam jenis polutan yaitu PM2.5, PM10, SO2, CO, NO2 dan O3 di 120 kota di China diteliti hubungannya dengan kasus-kasus konfirmasi Covid-19 di kota-kota tersebut. Kurun waktu data 29 Januari-29 Februari 2020. Model yang digunakan tergolong generalized additive model.

  • Temuan :

A 10-μg/m3 increase (lag0–14) in PM2.5, PM10, NO2, and O3 was associated with a 2.24% (95% CI: 1.02 to 3.46), 1.76% (95% CI: 0.89 to 2.63), 6.94% (95% CI: 2.38 to 11.51), and 4.76% (95% CI: 1.99 to 7.52) increase in the daily counts of confirmed cases, respectively. However, a 10-μg/m3 increase (lag0–14) in SO2 was associated with a 7.79% decrease (95% CI: −14.57 to −1.01) in COVID-19 confirmed cases.

Ini berarti bahwa peningkatan konsentrasi konsentrasi polutan berupa  PM2.5, PM10, NO2, dan O3  sebesar 10 mikrogram per meter kubik berasosiasi secara signifikan dengan peningkatan kasus konfirmasi harian Covid-19  dengan besar peningkatan antara 1,76 % hingga 6,94%. Akan tetapi, peningkatan SO2 sebesar 10 mikrogram per meter kubik berasosiasi secara signifikan dengan penurunan kasus konfirmasi Covid-19 sebesar 7,79%.

Yao et. at. (2020)

  • Penulis: Ye Yao, Jinhua Pan, Zhixi Liu, Xia Meng, Weidong Wang, Haidong Kan, Weibing Wang
  • Judul :Temporal association between particulate matter pollution and case fatality rate of COVID-19 in Wuhan
  • DOI: https://doi.org/10.1016/j.envres.2020.109941
  • Jurnal : Environmental Research
  • Tanggal terbit: 15 Juli 2020
  • Metode:

Konsentrasi harian PM2.5 dan PM10 dalam kurun waktu tertentu di Wuhan diperiksa korelasi temporalnya dengan kasus kematian di Wuhan dengan menggunakan time series analysis untuk mendapatkan asosiasi harian.

  • Temuan

We observed a higher CFR of COVID-19 with increasing concentrations of inhalable particulate matter (PM) with an aerodynamic diameter of 10 μm or less (PM10) and fine PM with an aerodynamic diameter of 2.5 μm or less (PM2.5) in the temporal scale.

Ini berarti para peneliti menemukan bahwa peningkatan persentase kematian akibat Covid-19 di Wuhan berasosiasi dengan peningkatan konsentrasi PM2.5 dan PM10.

Hasil Penelitian di Eropa

Ogen (2020)

  • Penulis: Yaron Ogen
  • Judul : Assessing nitrogen dioxide (NO2) levels as a contributing factor to coronavirus (COVID-19) fatality
  • DOI: https://doi.org/10.1016/j.scitotenv.2020.138605
  • Jurnal : Science of The Total Environment
  • Tanggal terbit: 11 April 2020
  • Metode:

Data distribusi konsentrasi nitrogen dioksida troposferik jangka panjang di 66 wilayah administratif di Italia, Spanyol, Prancis, dan German, yang didapat dari satelit Sentinel-5P, diperiksa hubungannya dengan kasus kematian akibat Covid-19 di wilayah tersebut.

  • Temuan:

Results show that out of the 4443 fatality cases, 3487 (78%) were in five regions located in north Italy and central Spain. Additionally, the same five regions show the highest NO2 concentrations combined with downwards airflow which prevent an efficient dispersion of air pollution.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa daro 4443 kasus kematian, sebanyak 78% di antaranya terjadi di lima wilayah yang menunjukkan konsentrasi NO2 tertinggi.

Setti et. al. (2020)

  • Penulis: Leonardo Setti, Fabrizio Passarini, Gianluigi De Gennaro, Pierluigi Barbieri, Maria Grazia Perrone, Massimo Borelli, Jolanda Palmisani, Alessia Di Gilio, Valentina Torboli, Francesco Fontana, Libera Clemente, Alberto Pallavicini, Maurizio Ruscio, Prisco Piscitelli, Alessandro Miani
  • Judul : SARS-Cov-2RNA found on particulate matter of Bergamo in Northern Italy: First evidence 
  • DOI: https://doi.org/10.1016/j.envres.2020.109754
  • Jurnal : Environmental Research
  • Tanggal terbit: 30 Mei 2020
  • Metode:

Sebanyak 34 sampel PM10 dikumpulkan dari beberapa titik lokasi di kota Bergamo, Italia, sepanjang 3 pekan. Sampel itu lalu diberikan perlakuan berupa ekstraksi RNA dengan protokol WHO, lalu dites dengan gen-gen penanda molekuler yang sangat spesifik yaitu E, N, and RdRP untuk menguji keberadaan RNA virus penyebab Covid-19 yaitu SARS-CoV-2.

  • Temuan:

The first test showed positive results for gene E in 15 out of 16 samples, simultaneously displaying positivity also for RdRP gene in 4 samples. The second blind test got 5 additional positive results for at least one of the three marker genes. Overall, we tested 34 RNA extractions for the E, N and RdRP genes, reporting 20 positive results for at least one of the three marker genes, with positivity separately confirmed for all the three markers.

Pada pengujian pertama dengan gen E ditemukan hasil positif RNA virus SARS-CoV-2 pada 15 dari 16 sampel. Dengan gen RdRP ditemukan pula hasil positif RNA virus di 4 sampel. Secara keseluruhan, dari 34 ekstraksi RNA yang diuji, ditemukan 20 hasil positif RNA. Para peneliti menyatakan bahwa hasil temuan mereka ini menjadi bukti pertama bahwa virus SARS-CoV-2 dapat berada di bahan partikulat.

 

Referensi:

Informasi pertama mengenai studi-studi ini didapatkan dari Coronavirus and Air Pollution – C-CHANGE | Harvard T.H. Chan School of Public Health.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *